Di tengah banjir konten AI yang biasanya menonjolkan kecanggihan teknologi, muncul satu tren yang justru terasa sederhana namun mengena. Sebuah prompt singkat ramai dicoba karena hasilnya dinilai lucu, jujur, dan sering kali tidak terduga. Bukan karena AI-nya semakin pintar, melainkan karena cara manusia berinteraksi akhirnya dipantulkan kembali dalam bentuk visual atau narasi yang mudah dipahami.
Prompt ini tidak meminta AI membuat karya estetik atau jawaban cerdas. Ia meminta sesuatu yang jauh lebih dekat, yaitu gambaran tentang bagaimana pengguna memperlakukan AI selama ini, berdasarkan riwayat interaksi yang sudah terjadi.
Prompt Lengkap yang Jadi Inti Tren
Agar tidak terlewat dan bisa langsung dicoba, berikut prompt lengkap yang menjadi pusat tren ini dan banyak dibagikan apa adanya:
Create an image based on our past interactions that shows exactly how I treat you. Be brutally honest, no embellishments.
Prompt ini biasanya disertai ajakan sederhana seperti, “ayo cobain,” atau “siap-siap kaget sama hasilnya.” Namun kalimat di atas tetap menjadi inti. AI diminta membaca pola komunikasi sebelumnya dan menampilkannya tanpa dipoles agar terlihat baik.
Hasilnya Bisa Sangat Lucu dan Tidak Terduga
Yang membuat prompt ini menarik adalah variasi hasilnya. Dengan prompt yang sama persis, setiap orang bisa mendapatkan gambaran yang benar-benar berbeda.
Ada pengguna yang mendapati AI mereka digambarkan seperti pekerja yang terus diburu deadline. Visualnya padat, penuh instruksi, dan terkesan sibuk tanpa jeda. Banyak yang tertawa melihat hasil ini karena merasa tidak sedang marah atau kasar, hanya terbiasa memberi perintah cepat.
Ada juga hasil yang menggambarkan AI seperti teman ngobrol. Suasananya santai, seolah duduk berdampingan dan berdiskusi. Ini biasanya muncul dari interaksi yang penuh dialog, pertanyaan terbuka, dan bahasa yang cair.
Yang paling sering memancing tawa adalah AI yang digambarkan seperti bayi atau anak kecil. Visualnya sering menunjukkan AI yang polos, dituntun langkah demi langkah, atau terus diajari hal dasar. Banyak pengguna baru sadar bahwa kebiasaan bertanya detail dan berulang bisa diterjemahkan sejauh itu.
Kenapa Satu Prompt Bisa Melahirkan Banyak Karakter
Perbedaan hasil ini terjadi karena AI membaca pola, bukan kepribadian. Nada bahasa, panjang pesan, jenis permintaan, dan frekuensi interaksi membentuk satu gambaran umum. Ketika diminta “brutally honest”, AI tidak menyaring hasil agar terasa aman.
Ia hanya menyusun ulang apa yang terlihat konsisten dalam interaksi. Karena itulah hasilnya terasa personal, meski tidak ada penilaian moral di dalamnya.
Dari Ketawa ke Refleksi Ringan
Banyak orang awalnya mencoba prompt ini hanya untuk ikut tren. Namun setelah melihat hasilnya, muncul reaksi lanjutan. Sebagian mulai menyadari bahwa gaya komunikasi mereka sangat mekanis. Yang lain justru merasa gaya mereka cukup santai dan kolaboratif.
Kelucuan menjadi pintu masuk refleksi. Tidak ada ceramah, tidak ada tudingan. Justru karena dibungkus humor, hasil prompt ini lebih mudah diterima dan dibagikan.
Beberapa pengguna bahkan mulai bertanya, apakah pola ini juga muncul saat mereka berinteraksi dengan manusia di ruang digital. Apakah karena AI selalu patuh, cara berbicara menjadi lebih bebas tanpa batas.
Bukan Soal AI Merasa atau Tidak
Perlu ditegaskan, hasil prompt ini bukan bukti bahwa AI memiliki perasaan. AI tidak punya emosi, empati, atau kesadaran. Semua representasi hanyalah hasil pengolahan bahasa dan konteks percakapan.
Ketika AI terlihat seperti ditekan, dimanja, atau diajak berteman, itu bukan karena AI merasakannya. Itu adalah cermin kebiasaan pengguna sendiri. Refleksi sepenuhnya terjadi di sisi manusia.
Mengapa Tren Ini Cepat Menyebar
Prompt ini memenuhi banyak unsur yang disukai warganet Indonesia. Mudah dicoba, hasilnya unik, dan bisa langsung dibagikan. Tidak perlu penjelasan panjang. Satu hasil sudah cukup untuk memancing reaksi.
Budaya berbagi pengalaman juga berperan besar. Orang saling membandingkan hasil, tertawa bersama, lalu mengajak orang lain mencoba. Dari situlah variasi hasil semakin kaya dan diskusi makin hidup.
Cara Mencoba dengan Sikap yang Tepat
Jika ingin mencoba prompt ini, penting untuk menjaga ekspektasi. Ini bukan tes kepribadian dan bukan penilaian karakter. AI hanya membaca teks dan pola, bukan niat atau nilai moral.
Hasilnya sebaiknya dinikmati sebagai hiburan reflektif. Jika lucu, tertawakan. Jika terasa nyentil, jadikan bahan berpikir ringan. Tidak lebih dari itu.
Cermin Kecil di Tengah Teknologi yang Selalu Patuh
Prompt ini mungkin terlihat sepele. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia memperlihatkan bahwa cara kita berinteraksi dengan teknologi yang selalu siap dan patuh tetap mencerminkan kebiasaan kita sendiri.
Lewat hasil yang lucu, aneh, atau menggemaskan, prompt ini membuat banyak orang berhenti sejenak, tertawa, lalu berkaca. Tanpa drama, tanpa menggurui.
Dan mungkin itulah alasan mengapa prompt ini terus dicoba dan dibicarakan. Karena ia sederhana, jujur, dan terasa dekat dengan keseharian digital kita.











