Awalnya Cuma Ingin Lihat Sebentar
Banyak orang pernah mengalami hal yang sama. Awalnya hanya ingin membuka media sosial lima menit sebelum tidur atau saat sedang istirahat. Namun tanpa sadar, satu jam berlalu begitu saja.
Dari video pendek pindah ke berita konflik, lalu masuk ke komentar panas, lanjut melihat kabar buruk lain yang terus bermunculan di timeline. Jari terus menggulir layar meski kepala mulai lelah.
Kebiasaan ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu aktivitas mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus melalui media sosial atau internet. Fenomena tersebut kini semakin sering terjadi, terutama sejak platform digital dipenuhi arus informasi tanpa henti.
Yang membuat banyak orang tidak sadar, doomscrolling bukan hanya soal membuang waktu. Berbagai penelitian mulai menunjukkan kebiasaan ini dapat memengaruhi kesehatan mental, kualitas tidur, bahkan tingkat kebahagiaan seseorang.
Penelitian Mulai Menemukan Hubungan dengan Turunnya Wellbeing
Laporan terbaru dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford menemukan adanya kaitan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan penurunan wellbeing atau kesejahteraan hidup.
Peneliti Michael Plant menjelaskan media sosial sebenarnya tetap memiliki sisi positif jika digunakan secara wajar. Penggunaan dalam durasi tertentu masih membantu seseorang tetap terhubung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial.
Namun hasil penelitian menunjukkan semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar pula penurunan kesejahteraan mental yang dirasakan pengguna.
Penurunan tersebut terlihat cukup signifikan pada kelompok usia muda di bawah 25 tahun di sejumlah negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Dalam satu dekade terakhir, kelompok usia ini mengalami penurunan tingkat kebahagiaan bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Para ahli menilai kondisi ini bukan sekadar kebetulan.
Media Sosial Memang Dirancang Agar Pengguna Bertahan Lebih Lama
Banyak platform digital modern bekerja menggunakan algoritma yang mempelajari kebiasaan pengguna. Ketika seseorang sering membuka berita sedih, konflik, atau konten emosional, aplikasi akan terus menampilkan materi serupa.
Tujuannya sederhana, yakni membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi.
Masalahnya, otak manusia memang lebih mudah tertarik pada hal negatif dibanding kabar baik. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias.
Secara alami, manusia lebih fokus pada ancaman karena otak menganggap informasi negatif penting untuk keselamatan. Akibatnya, berita buruk terasa lebih menarik dan lebih sulit diabaikan.
Kombinasi antara algoritma media sosial dan respons alami otak inilah yang membuat banyak orang sulit berhenti scrolling.
Bukan Sekadar Capek, Mental Bisa Ikut Terkuras
Paparan konten negatif terus-menerus membuat otak berada dalam kondisi siaga lebih lama. Tubuh merasa seolah terus menghadapi ancaman meski sebenarnya sedang berada di rumah atau hanya memegang ponsel.
Berbagai penelitian menemukan doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, rasa takut berlebihan, hingga kelelahan emosional.
Banyak pengguna akhirnya merasa dunia dipenuhi masalah tanpa akhir karena terlalu sering melihat konflik, krisis, dan berita buruk setiap hari.
Tidak sedikit pula yang mulai kehilangan fokus dan motivasi setelah terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial. Pikiran terasa penuh, tetapi tubuh justru semakin lelah.
Selain itu, media sosial juga mendorong budaya membandingkan diri dengan orang lain. Saat seseorang terus melihat pencapaian, gaya hidup, atau kebahagiaan orang lain di internet, rasa tidak puas terhadap hidup sendiri bisa ikut meningkat.
Gangguan Tidur Jadi Efek yang Paling Sering Terjadi
Salah satu dampak doomscrolling yang paling umum adalah gangguan tidur.
Banyak orang terbiasa scrolling sebelum tidur sambil berkata “sebentar saja”. Namun video dan berita yang terus muncul membuat waktu penggunaan menjadi jauh lebih lama dari perkiraan.
Paparan cahaya layar pada malam hari membuat otak tetap aktif sehingga tubuh lebih sulit masuk ke fase istirahat. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh tidak mendapatkan pemulihan yang cukup.
Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, produktivitas, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Beberapa ahli juga mengaitkan doomscrolling dengan sakit kepala, kelelahan mata, nyeri leher, hingga meningkatnya hormon stres dalam tubuh.
Tidak Semua Screen Time Selalu Buruk
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa penggunaan teknologi tidak selalu berdampak negatif.
Aktivitas seperti belajar kemampuan baru, membaca materi edukasi, bermain game bersama teman, atau melakukan video call dengan keluarga masih bisa memberi manfaat sosial dan emosional.
Yang menjadi masalah adalah penggunaan media sosial tanpa tujuan jelas dan dilakukan secara kompulsif.
Profesor psikologi dari University of Reading, Netta Weinstein, menyebut penggunaan teknologi yang sehat adalah ketika seseorang tetap merasa memiliki kontrol terhadap aktivitas digitalnya. Sebaliknya, kondisi menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa sulit berhenti atau memakai media sosial untuk menghindari masalah dalam kehidupan nyata.
Mulai Perlu Belajar Mengatur Konsumsi Digital
Di tengah kehidupan modern yang semakin dekat dengan layar, kemampuan mengatur konsumsi informasi kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana seperti membatasi waktu media sosial, mengurangi scrolling sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, hingga memperbanyak interaksi langsung di dunia nyata.
Aktivitas digital yang lebih positif juga mulai dianjurkan, misalnya belajar keterampilan baru, membuat karya kreatif, membaca hal edukatif, atau menggunakan teknologi untuk menjaga hubungan sosial secara sehat.
Karena pada akhirnya, tidak semua informasi di internet harus dikonsumsi setiap saat. Terlalu banyak melihat hal negatif tanpa jeda justru bisa membuat pikiran semakin lelah tanpa disadari.
