Amanda Manopo: trimester ketiga, tubuh berubah besar
JAKARTA — Amanda Manopo mengaku saat ini ia sudah memasuki usia kehamilan trimester ketiga. Bersamaan dengan bertambahnya usia kehamilan, ia merasakan perubahan fisik yang semakin terlihat jelas.
Amanda menyebut berat badannya naik sampai 26 kilogram sejak ia hamil. Ia pun jujur mengakui bahwa kondisi itu membuatnya insecure. Curahan yang ia sampaikan terdengar seperti refleksi pribadi yang cukup jujur, karena Amanda tidak menutup-nutupi bahwa ia sempat tidak nyaman dengan perubahan tersebut.
Ia menuturkan rasa insecure itu bukan sekadar “gaya bicara,” melainkan respons emosional yang nyata saat tubuhnya berubah.
Sandal jepit jadi pilihan harian karena tubuh menuntut kenyamanan
Kenaikan berat badan membuat Amanda harus mengubah kebiasaan kecil dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu yang ia soroti adalah soal alas kaki.
Amanda mengatakan bahwa ia kini hanya bisa menggunakan sandal jepit ke mana-mana. Ia membicarakan ini dengan gaya yang sederhana namun terasa personal: ada kebutuhan agar tetap nyaman bergerak.
Dengan perubahan bobot yang cukup besar, pilihan alas kaki jadi hal yang tidak bisa diremehkan. Baginya, sandal jepit mungkin terlihat biasa, tapi itu justru menjadi solusi yang paling masuk akal di kondisi sekarang.
Pakaian juga ikut beralih ukuran, dari S/M ke XL
Selain alas kaki, perubahan juga terjadi pada ukuran pakaian. Amanda mengungkap bahwa sekarang ia harus memakai ukuran XL, berbeda dari sebelumnya yang lebih sering berada di ukuran S atau M.
Bagi sebagian orang, perubahan ukuran pakaian bisa membuat emosi naik turun. Hal yang sama tampaknya terjadi pada Amanda, karena ia mengaitkannya langsung dengan rasa tidak percaya diri.
Amanda juga menyinggung bahwa ukuran pakaian yang berbeda membuatnya harus menyesuaikan pilihan penampilan. Tidak semua baju bisa dipakai, sehingga ia harus mengganti dengan yang lebih pas.
Insecure saat bercermin, tapi Amanda tetap mencoba berpikir positif
Amanda mengaku rasa tidak percaya diri sering muncul ketika ia bercermin. Momen itu seperti “pemicu” yang membuat ia menilai dirinya dengan cara yang lebih keras.
Namun di saat yang sama, Amanda berusaha menenangkan pikirannya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa kenaikan berat badan adalah hal yang wajar dialami ibu hamil.
Jadi, ada upaya internal yang ia lakukan: mengakui perasaan insecure, lalu melawannya dengan pemahaman bahwa kondisi tubuhnya sedang berubah karena alasan yang baik.
Kehamilan memaksa penyesuaian, bukan hanya soal bentuk tubuh
Dalam ceritanya, Amanda menunjukkan bahwa kehamilan tidak hanya mengubah tubuh, tetapi juga memengaruhi kebiasaan. Mulai dari alas kaki, lalu ukuran baju, sampai cara ia menatap diri sendiri lewat cermin.
Perubahan-perubahan itu menuntut penyesuaian cepat. Dan ketika adaptasi terjadi secara terus-menerus, perasaan insecure bisa muncul berulang.
Amanda seakan ingin menegaskan bahwa ada proses adaptasi yang harus dilewati, dan itu tidak selalu mudah.
Amanda tidak menuntut diri untuk “tetap seperti dulu”
Salah satu pesan yang bisa ditangkap dari curahan Amanda adalah ia tidak memaksakan diri agar tetap sama seperti sebelum hamil.
Ia tidak menyatakan ingin segera “kembali” seperti dulu dalam waktu singkat. Yang ia lakukan lebih ke menyesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung.
Dengan cara itu, Amanda menunjukkan sikap realistis: menerima perubahan sebagai fakta yang sedang terjadi, lalu memilih langkah yang mendukung kenyamanan diri.
Rutinitas tetap jalan, tapi pakai versi yang cocok untuk tubuh baru
Amanda tetap beraktivitas, dan ia menyusun ulang cara agar kegiatan sehari-hari tetap bisa dijalankan. Pilihan sandal jepit dan baju ukuran XL menjadi contoh penyesuaian paling nyata.
Ini seperti strategi bertahan: selama tubuh sedang berubah, maka yang dibutuhkan adalah dukungan pada kenyamanan. Bukan memaksa diri masuk ke pilihan yang dulu terasa pas.
Dari sini, terlihat bahwa Amanda sedang belajar untuk lebih mendengar tubuhnya sendiri.
Menjaga mental di tengah perubahan fisik yang besar
Di bagian lain, Amanda juga menyentuh sisi mental. Ia membicarakan insecure yang datang, lalu berusaha menguatkan diri.
Ia berusaha mengingat bahwa tubuhnya sedang menjalani proses untuk membesarkan janin. Jadi, perubahan bukan sesuatu yang perlu disalahkan, melainkan sesuatu yang harus diterima.
Dengan kata lain, Amanda sedang melakukan proses berdamai: berdamai dengan perubahan fisik dan mencoba menguatkan diri saat rasa tidak percaya diri datang.
Penolakan pada standar “harus tetap pede” saat hamil
Cerita Amanda bisa dibaca sebagai penolakan terhadap standar bahwa ibu hamil harus selalu percaya diri tanpa rasa khawatir.
Amanda justru membuktikan bahwa insecure bisa terjadi. Dan mengakui hal itu bukan berarti lemah—malah menunjukkan bahwa ia berani jujur tentang pengalamannya.
Ketika publik mendengar cerita seperti ini, sering kali muncul rasa simpati karena banyak orang mengalami hal yang serupa namun tidak berani mengatakannya.
Penutup: 26 kg bukan sekadar angka, tapi pengalaman yang mengubah cara Amanda melihat diri
Pada akhirnya, curhatan Amanda Manopo tentang kenaikan berat badan 26 kilogram sejak hamil memperlihatkan sisi real yang jarang dibahas secara terang-terangan.
Amanda merasakan insecure, mengalami perubahan alas kaki dengan memilih sandal jepit, dan menyesuaikan ukuran pakaian hingga XL. Ia juga mengaku rasa tidak percaya diri kerap menghampiri saat bercermin.
Namun Amanda tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini wajar bagi ibu hamil. Cerita ini menjadi pengingat bahwa perjalanan kehamilan bisa penuh perubahan, dan setiap orang berhak mengalami emosi yang berbeda-beda selama proses tersebut.











