1) Kasus dana berujung guncangan batin
Kasus penggelapan dana yang menyeret Fuji ternyata tidak berhenti di urusan kerugian materi. Fuji mengaku ada bagian yang jauh lebih menyakitkan, yakni guncangan mental yang ia rasakan setelah mengetahui privasinya dibawa masuk ke ranah publik.
Baginya, yang paling mengganggu bukan hanya soal uang yang hilang, tetapi cara seorang yang ia percaya ternyata bertindak di luar batas. Fuji menyebut peristiwa itu membuat dirinya merasa seperti dipatahkan dari dalam.
Ia pun menceritakan bahwa efek yang ia alami cukup berat. “Mental saya sempat hancur,” ujar Fuji dalam keterangan yang ia sampaikan di Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin, 20 April 2026.
2) “Bukan sekadar duit doang,” ujar Fuji
Fuji menekankan bahwa ia tidak sedang membesar-besarkan persoalan. Menurutnya, ia sedang menjelaskan kenapa dirinya sampai terdampak begitu dalam.
Ia menyebut ada unsur privasi yang diambil paksa, sehingga rasa sakitnya terasa berbeda. Jika hanya soal uang, mungkin masih bisa diproses dengan cara-cara yang lebih rasional. Namun, ketika bagian personal ikut disebar, semua jadi makin berat.
Fuji juga menggambarkan rasa kecewanya lewat kalimat yang cukup tegas. Ia mengatakan pengkhianatan itu terasa semakin menusuk karena ada akses ke kehidupan digital pribadinya.
3) Mantan admin diduga sebar privasi dan chat personal
Dalam keterangannya, Fuji mengungkap bahwa mantan admin media sosialnya melakukan tindakan yang menurutnya melampaui batas. Fuji menyebut privasi dirinya sempat disampaikan kepada orang lain tanpa izin.
Bukan sekadar informasi umum, Fuji berbicara soal chat pribadi. Ia menggambarkan bahwa chat yang seharusnya bersifat pribadi akhirnya menjadi konsumsi publik, membuatnya merasakan kehancuran kepercayaan.
“Dia screenshot chat-chat pribadi saya, disebarluaskan untuk jadi bahan ketawa-ketawaan, ngata-ngatain saya di belakang,” kata Fuji.
Kalimat itu memperlihatkan betapa peristiwa tersebut, menurut Fuji, tidak berhenti di pelanggaran privasi saja, melainkan juga berujung pada perendahan dan ejekan.
4) Akses ke akun Instagram dan TikTok membuat luka terasa lebih dalam
Fuji menyoroti fakta bahwa terduga pelaku memiliki akses ke Instagram pribadinya sekaligus TikTok. Bagi Fuji, kondisi ini membuat pelanggaran privasinya terasa lebih serius karena ruang personalnya seolah dibuka tanpa persetujuan.
Ia menjelaskan bahwa ia tidak cuma kehilangan kendali atas akun, tetapi juga kehilangan kendali atas informasi yang bersifat sangat pribadi. Ketika chat dan percakapan privat bisa diambil lalu disebar, Fuji merasa keamanan dirinya terganggu.
Pada titik itulah Fuji mengaku dirinya tidak mampu menghadapi semuanya sendirian. Ia merasa emosi yang menumpuk terasa seperti tidak tertahan.
5) Dari rasa kecewa menjadi tekanan psikologis
Fuji mengatakan guncangan yang ia alami cukup besar sampai ia sempat mempertimbangkan untuk menghubungi psikiater. Ia menyampaikan niat itu sempat muncul karena dirinya butuh bantuan untuk meredakan kondisi mental yang semakin berat.
Namun, rencana itu tidak jadi berjalan. Fuji menuturkan bahwa tekanannya terasa begitu kuat, sehingga pikirannya sulit kembali stabil.
Dalam situasi seperti itu, orang biasanya butuh ruang aman untuk memulihkan diri. Namun yang terjadi pada Fuji, justru ruang aman itu ikut terganggu oleh penyebaran privasi yang ia anggap memalukan.
6) “Saya nyaris gila,” ungkap Fuji dengan nada getir
Frasa “saya nyaris gila” bukan sekadar ungkapan kiasan bagi Fuji. Ia menyampaikan bahwa kondisi mentalnya sempat sangat terpuruk.
Ia merasa pengkhianatan itu datang dari orang yang pernah berada dalam lingkaran kepercayaannya. Ketika kepercayaan itu runtuh, dampaknya terasa langsung pada cara ia memandang situasi.
Fuji mengaku bahwa ia sempat berada pada kondisi di mana beban pikiran menumpuk dan sulit dikelola. Ia seperti menjalani hari dengan rasa sesak di kepala—bukan cuma sedih, tapi juga stres berat.
7) Tidak hanya diamankan sendiri, pelaku diduga coba menghasut
Fuji juga menyampaikan bahwa kondisi tersebut diperparah oleh sikap terduga pelaku. Menurut Fuji, pelaku mencoba mendoktrin karyawan lain agar memusuhinya.
Bagi Fuji, upaya seperti itu membuat situasi makin tidak aman. Ia bukan cuma menghadapi persoalan yang terjadi pada dirinya, tetapi juga menghadapi perubahan sikap dari orang-orang di sekitarnya.
Ketika lingkungan ikut terpengaruh narasi yang dibangun sepihak, korban sering merasa terpojok. Fuji menyampaikan bahwa hal tersebut makin memperburuk kondisi mental yang sudah tertekan.
8) Akibatnya, fokus Fuji tak lagi hanya pada kasus, tapi juga pada perlindungan diri
Dalam kasus yang menyangkut privasi dan penyebaran chat, korban tidak hanya memikirkan kerugian, tetapi juga memikirkan bagaimana mengamankan diri.
Fuji tampak ingin menegaskan bahwa ia terdampak pada banyak sisi: materi, psikologis, dan kehormatan pribadi. Ia ingin orang memahami bahwa privasi yang bocor bisa berdampak panjang.
Bukan sekadar “viral sebentar”, tetapi bisa mengganggu rasa aman, mengganggu hubungan sosial, bahkan membuat korban merasa takut berinteraksi.
9) Fuji menyampaikan keterangan di Polres Metro Jakarta Selatan
Fuji menyampaikan keterangannya di Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin, 20 April 2026. Langkah itu menunjukkan bahwa Fuji memilih jalur resmi untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Ia juga menegaskan bahwa peristiwa yang ia ceritakan bukan sekadar asumsi. Fuji mengungkap detail soal akses, bentuk tindakan, serta dampak yang ia alami.
Dengan cara itu, Fuji tampak berusaha agar masalah tidak berhenti pada opini publik, melainkan bisa masuk dalam proses pemeriksaan yang lebih jelas.
10) “Bahan ketawa-ketawaan” jadi inti luka Fuji
Di antara banyak poin, bagian yang paling disoroti Fuji adalah bagaimana chat pribadinya dijadikan bahan ejekan. Fuji tidak menyembunyikan rasa marah dan sedihnya ketika menyebut chat itu dipakai untuk menjatuhkan.
Ia menyebut chat yang seharusnya menjadi ruang pribadi justru dibalik menjadi tontonan. Menurut Fuji, ini yang membuat emosinya sulit stabil.
Ia juga mengungkap bahwa ejekan itu datang dari belakang—artinya bukan komunikasi langsung, melainkan cara merendahkan yang tidak berhadapan.
11) Dampak sosial ikut menambah beban
Fuji mungkin tidak menyampaikan detail paling luas soal reaksi publik, namun dari nada ceritanya terlihat ada dampak sosial yang turut menekan. Ketika informasi pribadi menyebar, perhatian orang sering ikut melebar.
Dalam kondisi itu, seseorang bisa merasa terus dinilai. Bahkan saat tidak merespons apa pun, perasaan tidak nyaman tetap hadir.
Fuji menceritakan bahwa mentalnya terhantam bukan hanya oleh satu momen, tetapi oleh rangkaian kejadian yang saling terhubung.
12) Fuji mencoba bertahan, tetapi tidak sanggup memendam sendiri
Fuji menunjukkan bahwa ia sempat mencoba menahan beban tersebut. Namun ia merasa cukup berat untuk dipendam sendirian.
Oleh sebab itu, ia memilih untuk bicara dan menyerahkan penjelasannya pada pihak yang berwenang. Bagi Fuji, diam total justru bisa membuat orang lain mengira situasi berjalan normal, padahal ia sedang kesulitan secara mental.
Ia menginginkan ada kejelasan agar prosesnya tidak berputar di tempat.
13) Kepercayaan yang dibangun terasa dipatahkan
Fuji menyampaikan bahwa ia merasa dikhianati oleh orang yang ia anggap memiliki kedekatan dan akses. Kepercayaan itu yang membuat lukanya terasa lebih tajam.
Ketika seseorang yang dekat justru mengambil privasi, yang terluka bukan cuma “data”, tapi harga diri dan rasa aman. Fuji seolah menggambarkan bahwa ia tidak cuma dirugikan, tapi juga dipermalukan.
Dan ketika rasa dipermalukan datang, proses pemulihannya butuh waktu yang tidak sebentar.
14) Fuji berharap proses berjalan sesuai fakta
Fuji mengarahkan fokus pada proses yang berjalan. Ia ingin aparat memeriksa apa yang terjadi, termasuk bagaimana akses itu digunakan dan apa alasan di balik penyebaran privasi.
Ia juga ingin agar publik tidak langsung menilai tanpa dasar, karena ia merasakan dampaknya langsung sebagai korban.
Dengan menyampaikan cerita, Fuji berharap keadilan bisa berjalan bukan berdasarkan rumor, melainkan berdasarkan fakta.
15) Penutup: privasi bukan bahan permainan
Pada akhirnya, Fuji ingin privasinya diperlakukan dengan semestinya. Ia menyampaikan bahwa penyebaran chat pribadi untuk bahan ejekan adalah tindakan yang merusak.
Fuji mengaku mentalnya sempat hancur sampai ia nyaris tidak sanggup menghadapi tekanan. Ia juga menyinggung bahwa pelaku diduga mencoba mendoktrin orang lain agar memusuhinya.
Bagi Fuji, yang paling penting sekarang adalah ada proses yang jelas dan pemulihan rasa aman, karena privasi bukan hal yang bisa dianggap main-main.











