Keputusan Matang di Usia Muda
Jakarta — Keputusan Dea Annisa, yang akrab disapa Dea Imut, untuk menunda pernikahan menarik simpati publik. Bukan karena ia tak ingin menikah selamanya, melainkan pilihan itu lahir dari tanggung jawab besar yang dipikulnya setelah kepergian sang ayah. Kabar ini diungkapkan sang ibu, Masayu Chairani, saat berbincang di kanal YouTube DMITV, Selasa (24/3/2026).
Masayu bercerita bahwa sejak awal Dea sudah menempatkan keluarga sebagai prioritas. Ketika teman seumurnya kerap menghabiskan malam di klub atau pub, Dea memilih pulang setelah syuting dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Sikap sederhana ini menurut Masayu menunjukkan kedewasaan Dea yang tidak dimiliki semua orang seusianya.
Keputusan menunda pernikahan bukan dibuat mendadak. Dea dan keluarga duduk bersama, menimbang berbagai aspek—finansial, emosi, dan masa depan pendidikan adik-adiknya. Pada akhirnya, keputusan itu hadir dari pertimbangan rasional: menyelesaikan tanggung jawab keluarga terlebih dahulu agar kehidupan keluarga kembali stabil.
Bagi publik, cerita Dea menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan selebritas ada peristiwa personal yang mempengaruhi pilihan hidup mereka. Tidak sedikit pula netizen yang memberi dukungan moral kepada Dea atas keputusannya itu.
Rutinitas Sederhana yang Terjaga
Dalam wawancara, Masayu menegaskan bahwa Dea bukan tipe anak muda yang mencari sensasi lewat kehidupan malam. “Kalau saya lihat anak-anak seumur Dea ya, ketika masih masa transisi itu pasti kalau ke lokasi syuting saya lihat banyak sekali ke pub ya, tapi anakku alhamdulillah gak pernah,” ujar Masayu. Ia menambahkan bahwa kalau Dea nongkrong, biasanya di kafe sambil ngopi bersama keluarga.
Kebiasaan pulang setelah syuting ini bukan semata soal kedisiplinan kerja, tapi juga bentuk tanggung jawab emosional. Dea hadir sebagai penopang keluarga, menemani sang ibu dan memberi perhatian pada adik-adiknya. Kehadiran seperti ini sering disebut keluarga sebagai penawar duka setelah kehilangan sang ayah.
Perbandingan gaya hidup ini membuat pilihan Dea terasa lebih bermakna. Di saat banyak remaja muda mengejar kebebasan, Dea justru memilih stabilitas keluarga sebagai prioritas utama. Sikap itu yang kemudian menjadi alasan kuat mengapa ia menunda rencana pernikahan.
Pada akhirnya, kebiasaan sederhana dan komitmen pada keluarga yang ditunjukkan Dea membuat banyak pihak kagum dan memuji kedewasaannya.
Menanggung Biaya Pendidikan Saudara
Salah satu alasan konkret di balik keputusan Dea adalah kewajiban finansial: membiayai pendidikan saudara-saudaranya. Masayu menjelaskan bahwa setelah ayah mereka meninggal, Dea mengambil peran besar untuk memastikan adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah. “Dia tanggung jawab sama kakak-kakaknya sampai selesai. Sampai tahun kemarin adiknya selesai (sekolah) itu Dea yang biayain,” tutur Masayu.
Peran ini mencakup pengaturan keuangan keluarga, menutup biaya sekolah, dan memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Tanggung jawab semacam ini tidak mudah bagi seorang yang masih aktif berkarier di dunia hiburan. Dea harus pintar mengatur waktu antara pekerjaan, istirahat, dan urusan keluarga.
Menunda pernikahan menjadi strategi praktis agar sumber daya keluarga tetap fokus pada prioritas pendidikan dan pemulihan kondisi keluarga secara menyeluruh. Keputusan pragmatis ini menunjukkan bahwa Dea memandang masa depan keluarganya sebagai investasi jangka panjang.
Di luar urusan materi, Dea juga menjadi sosok penyemangat bagi adik-adiknya agar tetap fokus belajar dan meraih cita-cita. Peran ini memberi dampak emosional yang besar bagi keluarga.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Pilihan Dea mendapat pengakuan dari kerabat dekat, salah satunya Fida, yang mengonfirmasi bahwa penundaan pernikahan memang merupakan keputusan matang demi menyelesaikan tanggung jawab keluarga. Dukungan moral dari keluarga dan kerabat menjadi pondasi penting yang membuat Dea berani mengambil langkah tersebut.
Di jagat maya, reaksi publik cenderung positif. Banyak netizen memuji komitmen Dea, menganggap tindakannya sebagai contoh keteladanan. Ada pula yang menanyakan bagaimana keputusan ini akan mempengaruhi kehidupan pribadi dan kariernya ke depan, namun keluarga menegaskan bahwa kebahagiaan bukan perkara yang harus dipercepat.
Dari sisi karier, Dea tetap aktif menerima pekerjaan. Ia menjaga keseimbangan agar komitmen profesional tidak mengorbankan tanggung jawab keluarga. Langkah ini menunjukkan kematangan manajemen diri yang patut diapresiasi.
Akhirnya, cerita Dea menjadi refleksi bahwa pengorbanan untuk keluarga tidak selalu disuarakan dengan megah; sering kali ia hadir dalam pilihan-pilihan sederhana yang diambil sehari-hari.
