Bagi banyak pekerja di Indonesia, bad mood sering kali bukan alasan untuk berhenti bekerja. Datang ke kantor dengan kepala penuh, hati lelah, dan energi menipis sudah menjadi bagian dari rutinitas. Selama tubuh masih sanggup duduk dan tangan masih bisa mengetik, pekerjaan tetap harus jalan. Kesehatan mental kerap dianggap urusan pribadi, bukan urusan kantor. Namun, cara pandang seperti itu justru dipatahkan oleh sebuah perusahaan ritel di China.
Perusahaan tersebut adalah Pang Dong Lai, jaringan ritel yang dikenal luas karena kebijakan kerjanya yang tidak lazim. Di tengah budaya kerja China yang identik dengan disiplin ketat dan jam kerja panjang, Pang Dong Lai memberi karyawannya cuti khusus hingga 10 hari hanya karena sedang tidak bahagia atau tidak mood. Tidak ada drama, tidak ada stigma, dan yang paling penting, tidak ada pemotongan jatah cuti lain.
Kebijakan ini diperkenalkan secara resmi sejak Maret 2024 oleh pendiri sekaligus chairman Pang Dong Lai, Yu Donglai. Dalam pernyataannya, Yu Donglai menyebut bahwa setiap orang pasti memiliki fase emosional yang tidak stabil. Menurutnya, memaksa karyawan bekerja dalam kondisi mental yang buruk justru tidak manusiawi dan berpotensi merusak kinerja jangka panjang.
Cuti ini dikenal sebagai “cuti tidak bahagia”. Mekanismenya sederhana. Jika karyawan merasa mentalnya tidak baik, mereka boleh mengajukan cuti hingga 10 hari kapan saja. Cuti ini berdiri terpisah dari cuti tahunan. Artinya, hak libur karyawan tidak berkurang. Tidak diperlukan surat dokter atau penjelasan panjang. Lebih dari itu, manajemen perusahaan secara tegas dilarang menolak pengajuan cuti tersebut. Jika ada atasan yang menolak, tindakan itu dikategorikan sebagai pelanggaran aturan internal perusahaan.
Di China, kebijakan ini langsung menyita perhatian publik. Selama ini, negara tersebut dikenal dengan budaya kerja keras dan praktik lembur yang sering dianggap normal. Dalam konteks tersebut, memberi cuti hanya karena karyawan sedang tidak mood terasa seperti hal yang bertolak belakang dengan logika bisnis arus utama. Tidak sedikit warganet yang menyebut Pang Dong Lai sebagai pengecualian langka di dunia kerja China.
Namun bagi Yu Donglai, kebijakan ini bukan sekadar eksperimen sosial. Ia secara terbuka mengkritik budaya kerja dengan jam panjang yang menurutnya tidak etis. Dalam pandangannya, jam kerja berlebihan bukan tanda dedikasi, melainkan kegagalan sistem. Praktik tersebut, kata dia, merampas kesempatan individu untuk mengembangkan diri, beristirahat, dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Cuti tidak bahagia hanyalah satu bagian dari pendekatan kerja yang diterapkan Pang Dong Lai. Perusahaan ini juga membatasi jam kerja harian hanya tujuh jam. Akhir pekan ditetapkan sebagai hari libur tanpa pengecualian rutin. Selain itu, karyawan berhak atas cuti tahunan sekitar 30 hingga 40 hari, ditambah cuti lima hari khusus saat perayaan Tahun Baru Imlek. Jika dibandingkan dengan standar industri ritel, kebijakan ini tergolong sangat longgar.
Dari sisi kesejahteraan, Pang Dong Lai juga tidak main-main. Hingga 2024, perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 7.000 karyawan. Rata-rata pendapatan bulanan mereka berada di atas 9.000 yuan, atau sekitar Rp 21 juta. Angka tersebut terbilang tinggi untuk sektor ritel dan menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental tidak dibayar dengan gaji murah.
Yang membuat kebijakan ini semakin menarik adalah dampaknya terhadap kinerja bisnis. Berdasarkan laporan firma riset pasar Daxue Consulting, Pang Dong Lai mencatat total penjualan sebesar 17 miliar yuan sepanjang 2024, setara sekitar Rp 41 triliun. Dari angka tersebut, perusahaan membukukan laba lebih dari 800 juta yuan, atau sekitar Rp 1,9 triliun. Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan kerja humanis tidak selalu bertentangan dengan profit.
Kesuksesan Pang Dong Lai juga ditopang oleh fokus kuat pada pengalaman pelanggan. Setiap toko dirancang untuk memudahkan semua kalangan. Tersedia troli belanja standar, troli khusus lansia dengan tempat duduk dan sandaran tangan, serta stroller bagi keluarga yang membawa bayi. Bahkan, supermarket ini menyediakan lemari khusus untuk hewan peliharaan lengkap dengan tempat minum dan pendingin. Detail-detail kecil ini memperlihatkan filosofi perusahaan yang menempatkan kenyamanan manusia sebagai prioritas utama.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Pang Dong Lai terasa dekat sekaligus kontras. Di tengah meningkatnya pembahasan soal burnout dan kesehatan mental, cuti karena alasan emosional masih sering dipandang sebagai bentuk kelemahan. Banyak pekerja merasa tidak enak hati mengambil cuti, apalagi jika alasannya tidak terlihat secara fisik.
Pengalaman Pang Dong Lai menunjukkan bahwa ada pendekatan lain dalam mengelola tenaga kerja. Model ini tentu tidak bisa diterapkan begitu saja di semua perusahaan. Setiap negara memiliki budaya kerja, regulasi, dan tantangan berbeda. Namun satu pelajaran penting muncul. Mengakui bahwa karyawan bisa lelah secara mental, dan memberi ruang untuk pulih, bukan tanda perusahaan menjadi lunak. Dalam kasus Pang Dong Lai, langkah tersebut justru menjadi fondasi bisnis yang sehat, stabil, dan berkelanjutan.











