Jakarta. Nama Tyto alba mendadak menjadi perbincangan luas setelah seekor burung hantu jenis ini ditembak mati oleh seorang warga di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa tersebut viral di media sosial karena terekam dalam video dan menyebar cepat, memicu keprihatinan publik. Banyak warganet mempertanyakan alasan penembakan, sementara sebagian lainnya baru menyadari bahwa burung hantu yang selama ini dianggap mengganggu justru memiliki peran penting di alam.
Kasus ini bermula di Dusun Nela, Kecamatan Tasifeto Barat. Burung hantu tersebut ditembak menggunakan senapan angin pada malam hari. Terduga pelaku mengaku merasa terganggu oleh keberadaan burung hantu di sekitar rumahnya. Video kejadian itu direkam oleh saksi dan kemudian diunggah ke media sosial, sehingga memicu reaksi luas. Aparat kepolisian setempat segera melakukan klarifikasi dan pendalaman di lapangan.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa terduga pelaku kini menjalani proses hukum terkait dugaan penganiayaan terhadap hewan yang mengakibatkan kematian. Proses tersebut dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Di luar proses hukum, peristiwa ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai relasi manusia dengan satwa liar, khususnya satwa yang hidup berdekatan dengan permukiman.
Tyto alba sejatinya bukan satwa langka atau asing bagi masyarakat Indonesia. Burung hantu ini dikenal dengan sejumlah nama lokal, seperti serak jawa, burung hantu lumbung, atau burung hantu gudang. Ciri fisiknya mudah dikenali. Kepalanya besar dan membulat, tanpa jumbai telinga. Wajahnya berbentuk seperti hati dengan warna putih pucat, memberi kesan kontras saat terlihat di malam hari. Bagian punggung dan kepala berwarna cokelat muda dengan bintik hitam dan putih yang bervariasi, sementara bagian bawah tubuhnya berwarna putih keabu-abuan.
Dari sisi ukuran, betina Tyto alba umumnya lebih besar dibanding jantan. Berat betina dapat mencapai sekitar 570 gram, sedangkan jantan rata-rata sekitar 470 gram. Panjang tubuhnya berkisar antara 32 hingga 40 sentimeter. Rentang sayapnya mencapai lebih dari satu meter, membuat burung ini mampu terbang dengan stabil dan senyap di area terbuka.
Secara global, Tyto alba memiliki persebaran yang sangat luas. Puluhan subspesiesnya diakui oleh para ahli berdasarkan perbedaan ukuran tubuh dan warna bulu. Di Indonesia, burung hantu ini banyak dijumpai di wilayah pedesaan, lahan pertanian, hingga kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Pada siang hari, Tyto alba beristirahat di tempat-tempat tersembunyi seperti rongga pohon, bangunan tua, lumbung, atau celah struktur buatan manusia. Aktivitas utamanya baru dimulai saat malam tiba.
Sebagai predator nokturnal, Tyto alba dikenal sebagai pemburu yang sangat efisien. Mangsa utamanya adalah mamalia kecil, terutama tikus. Selain itu, burung hantu ini juga dapat memangsa burung kecil dan hewan pengerat lainnya. Aktivitas berburu biasanya dimulai setelah matahari terbenam. Dalam kondisi cahaya redup, Tyto alba mengandalkan penglihatan malam yang sangat sensitif. Saat berburu dalam kegelapan total, indra pendengaran menjadi alat utama untuk mendeteksi pergerakan mangsa.
Kemampuan pendengaran Tyto alba bahkan disebut sebagai salah satu yang paling akurat di antara burung hantu. Struktur wajahnya membantu memfokuskan gelombang suara ke telinga, sehingga suara langkah kecil tikus di rerumputan dapat terdeteksi dengan presisi tinggi. Ditambah dengan bulu-bulu halus yang mampu meredam suara kepakan sayap, Tyto alba dapat terbang mendekati mangsanya hampir tanpa suara.
Saat menyerang, burung hantu ini biasanya terbang rendah di atas tanah, sekitar satu hingga empat meter. Mangsa ditangkap menggunakan kaki yang kuat, lalu dilumpuhkan dengan gigitan cepat di bagian belakang kepala sebelum akhirnya ditelan secara utuh. Pola berburu ini membuat Tyto alba dikenal sebagai predator malam yang sangat efektif.
Peran ekologis Tyto alba menjadi salah satu alasan utama mengapa kasus penembakan ini menuai reaksi luas. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menjelaskan bahwa seekor Tyto alba dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam. Kemampuan ini menjadikan burung hantu tersebut sebagai predator alami yang membantu menekan populasi hama, terutama di area pertanian.
Meski demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa pemanfaatan Tyto alba sebagai pengendali hama tetap memerlukan pengelolaan yang cermat. Jika populasi burung hantu meningkat sementara sumber makanan menurun, mereka dapat beralih memangsa spesies lain seperti burung kecil, kelelawar, atau hewan ternak berukuran kecil. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem lokal.
Viralnya kasus Tyto alba yang ditembak di NTT menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan satwa liar masih kerap terjadi. Kurangnya pemahaman tentang peran ekologis satwa sering menjadi pemicu utama. Tyto alba kerap dipersepsikan sebagai gangguan atau pertanda tertentu, padahal kehadirannya justru memberi manfaat nyata bagi lingkungan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa edukasi dan literasi lingkungan masih sangat dibutuhkan. Tyto alba bukan sekadar burung hantu yang muncul dalam video viral, melainkan bagian penting dari sistem alam yang bekerja secara senyap untuk menjaga keseimbangan ekosistem, terutama saat malam tiba.











